Update Berita Terbaru 2020

Kamis, 05 November 2020

Mengenal Apa Itu Manajamen Likuiditas


Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang akan jatuh tempo. Jika bank memiliki sejumlah alat pembayaran pada saat tertentu, ini disebut sebagai kekuatan membayar. Namun, memiliki kekuatan membayar tidak selalu berarti memiliki kemampuan likuiditas.

Dalam perbankan, likuiditas adalah hal yang amat penting. Bank yang memiliki kemampuan likuiditas lebih mudah untuk memelihara kepercayaan masyarakat. Karena itu, bank berusaha mempertahankan rasio likuiditas dengan memperkecil dana yang menganggur serta meningkatkan pendapatan dengan risiko sekecil mungkin untuk memenuhi kebutuhan cash flow.

Mengenal Manajemen Likuiditas

Menurut Duane B. Graddy, manajemen likuiditas adalah perkiraan permintaan dana oleh masyarakat dan penyediaan cadangan untuk memenuhi kebutuhan. Sementara itu, Oliver. G. Wood mengatakan bahwa manajemen likuiditas melibatkan perkiraan kebutuhan dan penyediaan kas secara terus-menerus, baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang.

Tujuan manajemen likuiditas adalah mencapai cadangan yang dibutuhkan berdasarkan ketetapan Bank Sentral. Melalui manajemen likuiditas, bank harus berupaya memperkecil dana yang menganggur karena dapat mengurangi tingkat profit bank. Manajemen likuiditas disebut baik jika penarikan dana oleh nasabah atau pengambilan pinjaman tidak menyebabkan proyeksi cash flow terganggu.

Jadi, secara umum, ada dua risiko yang terdapat pada likuiditas, yaitu kelebihan dana dan kekurangan dana. Pada saat kelebihan dana, bank harus mengalami pengorbanan tingkat bunga yang tinggi. Sementara itu, pada saat kekurangan dana, tidak cukup bagi bank untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Dalam kondisi ini, bank biasanya akan mendapatkan penalti dari Bank Sentral.

Keadaan ini sangat tidak diharapkan karena dapat mengganggu kinerja keuangan dan kepercayaan masyarakat terhadap bank tersebut. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa bank yang mengharapkan keuntungan maksimal akan memiliki risiko tingkat likuiditas rendah. Namun, jika tingkat likuiditas tinggi, keuntungan biasanya tidak maksimal.

Teori Manajemen Likuiditas

Untuk mengenal lebih jauh tentang manajemen likuiditas, ada beberapa teori yang perlu dipahami. Berikut ulasan singkatnya.

- Commercial Loan Theory

Ini adalah teori manajemen likuiditas yang paling kuno. Teori ini juga disebut Real Bills Doctrine. Dalam teori yang dimunculkan oleh Adam Smith dalam bukunya berjudul The Wealth of Nation (1776) ini, bank hanya boleh memberikan pinjaman dengan surat dagang jangka pendek yang dapat dicairkan dengan sendirinya (self liquiditing).

- Shiftability Theory

Shiftability Theory adalah teori tentang aktiva yang dapat dipindahkan. Menurut teori ini, likuiditas bank tergantung pada kemampuan memindahkan aktivanya kepada orang lain dengan harga yang dapat diprediksi. 

Sebagai contoh, bank berinvestasi pada pasar terbuka jangka pendek. Jika suatu saat sejumlah pemilik deposito memutuskan untuk menarik uang mereka kembali, bank hanya perlu menjual investasi tersebut. Bank mengambil yang dapat diperoleh dan membayar kembali kepada pemilik deposito.

- Anticipated Income Theory

Teori ini disebut juga teori pendapatan yang diharapkan. Menurut teori ini, dana yang dialokasikan atau setiap upaya untuk mengalokasikan dana harus ditunjukkan pada sektor yang feasible dan menguntungkan bagi bank.

- The Liability Management Theory

Menurut teori ini, bank harus dapat mengelola pasivanya sehingga dapat menjadi sumber likuiditas. 

Mengelola Manajemen Likuiditas

Untuk menjaga likuiditas supaya selalu berada dalam posisi aman, ada beberapa strategi yang dilakukan oleh bank. Di antaranya sebagai berikut:

  • Memperpanjang jatuh tempo semua kewajiban bank. Hal ini perlu dilakukan kecuali tingkat bunga cenderung menurun.
  • Melakukan diversifikasi sumber dana bank
  • Menjaga keseimbangan jangka waktu aset dan kewajiban
  • Memperbaiki posisi likuiditas. Caranya adalah mengalihkan aset yang kurang marketable menjadi lebih marketable. 

Selain itu, ada setidaknya 3 strategi yang bisa dilakukan untuk menjaga agar likuiditas bank tetap berjalan dengan baik. Pertama, strategi preventif yaitu menjauhi unsur-unsur spekulatif sehingga masalah likuiditas dapat dihindari. 

Kedua, strategi represif yaitu langkah yang dilakukan apabila bank telanjur mengalami masalah likuiditas. Langkah tersebut adalah meminjam dari pasar uang, mengkonversikan dana valuta asing yang dimiliki, dan meminjam valuta asing dari pasar internasional.

Ketiga, strategi profitabilitas yaitu kesanggupan dalam memperoleh laba. Pendapatan bank merupakan sasaran utama yang harus dicapai sebab bank didirikan untuk mendapatkan profit. Laba didapatkan dari selisih antara biaya dana dengan pendapatan bunga yang diterima para debitur. 

Jadi, manajemen likuiditas sangat penting bagi keberlangsungan suatu bank. Karena itu, mengelolanya pun harus dengan pertimbangan yang matang dan tepat. 

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Sebagai platform pengembangan dana yang optimal dengan bunga hingga 21% per tahun kamu dapat memulainya hanya dengan Rp100 ribu saja.

Yuk! Gunakan kode promo AKSLSEO saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]

Share:

0 komentar:

Posting Komentar