Update Berita Terbaru 2020

Minggu, 17 Mei 2020

Sulastri, si Pejuang Pendidikan di Pedalaman Aceh Tengah


Pahlawan tak perlu serta merta harus mengangkat senjata, lalu menumpas musuh yang datang. Julukan satu ini pun pantas diberikan pada mereka yang meluangkan sedikit waktu, pikiran, atau tenaganya untuk membahagiakan dan mensejahterakan orang lain. Seperti halnya Sulastri, wanita tangguh yang memberikan hak pendidikan bagi anak buta huruf di pedalaman Aceh Tengah. 

Bangun Sekolah dengan Modal Semangat 

Percayalah, dengan modal semangat dan kerja keras, apa yang Anda impikan akan bisa tercapai. Seperti halnya semangat membara yang dimiliki Sulastri, yang akhirnya membuatnya bisa mewujudkan impian untuk menghadirkan sekolah di Kala Wih Ilang, Pegasing, Takengon, Aceh Tengah. Tentu saja, proses mencapai impian yang dilandasi semangat ini tak serta merta lurus saja jalannya. 

Ide membangun sekolah muncul di benak Sulastri, kala ia melihat anak-anak usia belasan tahun di daerah tempatnya bekerja tak bisa mengenyam pendidikan. Tak ada sekolah yang berdiri di sana, membuat anak-anak usia sekolah tersebut lebih memilih menghabiskan waktu dengan membantu orang tua bekerja di kebun. Jadi, tak heran jika anak-anak di sana mengalami buta huruf. 

Sulastri yang saat itu bekerja sebagai pegawai honorer di Kantor Urusan Agama (KUA) Pegasing, memutuskan untuk membuka sekolah bersama dengan pamannya. Pada tahun 2013, sekolah dibuka dengan bangunan yang berlantaikan tanah. Sekolah yang bernama MIS atau Madrasah Ibtidaiyah Swasta Kala Wih Ilang itu pun jadi pusat ilmu bagi anak-anak dusun Kala Wih Ilang. 

Perjuangan Sulastri bukannya tanpa hambatan. Tak berselang lama setelah sekolah tersebut ia dirikan, pamannya telah terlebih dahulu dipanggil Yang Kuasa. Selanjutnya, ia mengabdi di sana seorang diri selama 13 tahun, untuk mengajari peserta didiknya. Perlengkapan sekolah ia beli dengan mengandalkan iuran ala kadar dari orang tua siswa dan juga dana pribadinya sendiri.

Pengorbanan dan Penantian Sulastri yang Berbuah Manis

Banyak hal yang dikorbankan Sulastri agar bisa memberi ilmu pada anak-anak didiknya tersebut, bahkan calon bayinya sendiri. Buruknya akses jalan ke dusun Kala Wah Ilang tersebut bahkan pernah membuatnya mengalami keguguran hingga dua kali. Namun bagi Sulastri, itu bukanlah alasan yang membuatnya harus membatalkan niat untuk mencerdaskan anak bangsa. 

Akhirnya, setelah berjibaku sendirian mendidik di MIS Kala Wah Ilih selama 13 tahun, akhirnya 3 guru PNS ditempatkan di sana pada tahun 2016. Sulastri pun memegang peran sebagai kepala sekolah, walau ia bukan lulusan jurusan pendidikan dan masih berstatus guru honorer. Sejak tahun 2017 pun, sekolah yang didirikannya tersebut mendapatkan bantuan dana sebanyak 16 juta per tahunnya.

Kerja Keras Berbuah Predikat Guru Inspiratif 

Atas dedikasi dan kerja kerasnya memberikan akses pendidikan bagi anak-anak usia sekolah di Kala Wah Ilang, Sulastri pun diganjar penghargaan. Pada akhir tahun 2019, ia diterbangkan ke Jakarta untuk menerima penghargaan dari Kementerian Agama sebagai guru inspiratif. Bagi Sulastri sendiri, penghargaan tak lebih penting dari niatnya untuk mendidik hingga akhir hayat nanti.

Penghargaan sebagai guru inspiratif saja sepertinya tak cukup untuk membalas dedikasi tanpa batas yang diberikan oleh Sulastri. Makanya, tak salah jika kiranya ia juga diberi apresiasi berupa kesempatan umroh gratis oleh Allianz lewat kampanyenya #AwaliDenganKebaikan. Dari kebaikan yang telah dimulainya sejak belasan tahun lalu, inilah saatnya Sulastri menuai hasilnya. 

#AwaliDenganKebaikan merupakan kampanye yang digalakkan oleh asuransi syariah Indonesia terpercaya, Allianz. Anda tentu sudah sering mendengar gaung dari produk asuransi syariah yang dihadirkan perusahaan asuransi satu ini. Lewat kampanye #AwaliDenganKebaikan ini, para tokoh inspiratif seperti Sulastri memiliki kesempatan untuk bisa menapakkan kakinya di Tanah Suci.
Share: